Minggu, 21 Desember 2014

Pesawat Impian Kiclik

   Kaki-kaki mungil berlari dengan telanjang kaki dijalanan desa tak beraspal yang ditumbuhi rumput alang-alang liar dikanan kirinya, mereka berlari dengan terus mendongak ke atas sambil berteriak riang memanggil burung besi yang melintas diatas awan, tak peduli terik matahari juga kerikil yang menusuk kaki, suara sengau bersahutan beradu satu sama lain mencoba menyeru paling keras walaupun yang dipanggil tetap melaju dengan gagah, hanya meninggalkan garis bekas lajunya diawan, namun mereka tidak peduli, mereka tetap merasa riang, begitulah masa anak-anak, bagaimanapun keadaannya mereka hanya melakukan apa yang membuat mereka bahagia. Pesawat terus melaju membawa kaum elit yang sedang menikmati perjalanan dengan dilayani pramugari cantik nan jelita didalamnya, kaum yang bahkan pedulipun tidak pada teriakan-teriakan dibawahnya. Kiclik, si bocah berbadan kurus berlari paling depan memimpin teman-temannya, dia berlari bak komandan membawa prajurit, “Pesawaaat... Pesawaaat...” hingga yang dipanggil-panggil hilang tertutup awan, bahagia sekali raut muka mereka, terlebih Kiclik.. sering dia bercerita pada teman-temannya jika sudah besar nanti dia ingin menjadi pilot, begitupun saat gurunya menanyakan soal cita-cita, Kiclik akan berdiri dengan yakin dan menjawab “Saya ingin menjadi pilot, bu!”.

   Begitulah Kiclik dan obsesinya terhadap pesawat, dia amat ingin mengemudi burung besi itu, selain terkagum dengan kehebatan pesawat yang dia tahu, sesungguhnya ada alasan lain mengapa dia ingin menjadi pilot. Alasan manis dari anak seusianya, dia belum memahami cita-citanya akan sesulit apa untuk diraih, dia hanya tahu dia memiliki cita-cita dan dia sangat ingin mewujudkannya. Pesawat mulai hilang tertutup awan, Kiclik dan pasukannya menghentikan lari mereka, merelakan sang gagah terbang melanjutkan perjalannya.

   “Assalamualaikum..” Kiclik membuka pintu rumah dengan nafas tersengal.

   “Wa’alaikumsalam, dari mana nang? Capek sekali rupanya..” Panggilan nang adalah panggilan untuk anak laki-laki kecil didaerah Kiclik tinggal. Perempuan berumur senja menyambutnya. Dia adalah Mih Asih, nenek yang akrab Kiclik panggil “Mimih”. Kiclik tinggal bersama nenek, kedua kakak dan juga ayahnya dirumah kecil berdinding anyaman bambu disebuah desa diujung barat Indramayu.
           
   “Tadi aku mengejar pesawat bersama teman-teman Mih, pesawat itu terbang tinggi sampai menembus awan..” Kiclik bercerita dengan penuh antusias, matanya membulat menampakkan kekaguman.

   “Makan dulu nang, sudah siang. Lalu istirahat, jangan lupa jam 3 kamu harus berangkat mengaji ke madrasah..” Mimih tersenyum, sedikit menahan getir mendengar alasan mengapa Kiclik pulang dengan tersengal, mimih sangat hafal jika Kiclik sudah melihat pesawat maka dia akan terus bercerita, mimih tidak bosan, justru mimih bahagia cucunya pandai berbicara, senang bercerita dan amat riang, namun mimih sedih jika mendengar Kiclik bercerita tentang cita-citanya yang pasti sepaket dengan alasannya. Dari pada hanyut dalam sendu mimih lebih memilih megganti topik, berharap Kiclik berganti fokus, namun sayang segala hal tentang pesawat yang Kiclik tahu sudah terlanjur menempel tak bisa lepas dari angannya.

   “Pesawat itu besar sekali mih, lebih besar dari yang aku lihat saat pulang sekolah kemarin! Nanti saat menjemput ibu aku ingin memakai pesawat sebesar itu agar ibu bisa duduk santai dan nyaman didalamnya, agar ibu tidak kelelahan..” Benar saja, bagaimanapun mimih mencoba mengalihkan pembicaraan Kiclik tetap menyerocos,  kemudian menenggak  segelas air setelah menyelesaikan ceritanya, dia berucap amat yakin seakan esok rencana itu pasti terjadi, dia sangat semangat hingga air yang diminum menumpahi bajunya.

   “Pelan-pelan clik, nanti kamu tersedak..”

   “Pokoknya aku harus jadi pilot!” Kiclik berlarian dengan membentangkan tangan berimajinasi layaknya pesawat, mimih menunduk sedih dengan tangannya tidak berhenti membungkus keripik yang akan dijajakan dipasar esok hari.

   “Aamiin..” Mih Asih berucap lirih hampir tak terdengar. Mata senjanya berkaca-kaca, terasa sedih hatinya karena setiap mendengar cita-cita Kiclik mengingatkan pada Sumarni, ibu Kiclik yang tak lagi ada kabar beritanya, kabar terakhir yang datang langsung darinya adalah saat Kiclik berumur 5 tahun. Saat itu Sumarni mengabarkan belum juga bisa pulang.

   Kiclik adalah anak seorang TKW yang bekerja diluar negeri, 6 tahun sudah dia berpisah dengan sang ibu. Ibunya meninggalkan Kiclik sejak dia berusia 3 tahun, hingga kini dia duduk dibangku kelas 4 SD ibunya tak kunjung pulang. Tidak ada orang yang ingin terpisah jauh dari keluarga, jangankan berbeda negara, berbeda kotapun rasanya tak kuasa jika rindu datang melanda, tapi apalah daya jika faktor ekonomi adalah alasan utama, toh untuk kebahagiaan keluarga juga. Kiclik adalah bungsu dari 5 bersaudara, kakak pertamanya sudah berkeluarga dan hidup didesa sebelah, kakak keduanya meninggal dunia menderita penyakit langka, kedua kakak lainnya seharusnya masih duduk dibangku SMA namun mereka memutuskan untuk berhenti sekolah karena kurangnya biaya, salah satunya memilih untuk bekerja menjadi buruh kasar dipasar, sedang kakak terakhirnya menjadi kuli cuci dirumah tetangga. Mereka hidup sangat sederhana, bahkan cenderung susah.

   Tidak terpikir sebelumnya dibenak Mih Asih harus terpisah jarak yang begitu jauh dengan anak yang dicintainya, awalnya Sumarnipun tak berniat menjadi TKW, namun ekonomi keluarga yang sangat menghimpit dengan tanggungan yang banyak dan suami yang hanya pedagang asongan dengan penghasilan tidak menentu membuatnya berani mengambil keputusan, 6 tahun lalu dia mendengar berita bahwa temannya setelah pulang dari negeri orang hanya dalam 2 tahun mampu membeli sawah, bahkan berhaji, dari situ Sumarni tertarik untuk mengikuti jejak temannya, namun rezeki setiap manusia berbeda-beda, Sumarni tidak seberuntung temannya, perjanjian kontrak kerja hanya 2 tahun namun nasib berkata lain, hingga kontrak kerja berakhir Sumarni tak juga pulang karena majikannya menahannya dengan berbagai alasan, katanya Sumarni tercatat sebagai TKW ilegal dan dokumen-dokumen yang dia miliki tidak sah dan dokumen itupun ditahan sang majikan, disana ia diperlakukan dengan tidak menyenangkan, sempat ia mencoba kabur namun malang, majikannya mengetahui, disiksalah ia, diperlakukan selayak binatang. Selama bekerja Sumarni hanya mengirim uang sebanyak 6 kali, itupun tidak memperbaiki ekonomi keluarga sama sekali, setelahnya jangankan uang, kabarpun tak ada lagi. Sejak mengerti bahwa ibunya tidak kunjung pulang Kiclik selalu mendengungkan impiannya bahwa dia ingin menjadi pilot, mampu menerbangkan pesawat agar dapat menjemput ibunya, membawanya pulang kembali berkumpul bersama keluarga, biar susah asal bersama.

   “Mimih jangan sedih, nanti aku akan ajak mimih..” Kiclik merangkul neneknya dari belakang.

   “Iya iya.. makanlah dulu, agar tak sakit, pilot kan harus sehat..” Mimih mengelus lembut rambut Kiclik, tanpa menunggu lama Kiclik menuju dapur dengan semangat.

Mih Asih memasuki kamarnya, meraih kotak kayu dibawah kolong tempat tidur, dipegangnya sebuah guntingan koran dengan judul “TKW Tewas Tanpa Identitas”. Ia menangis dalam diam, tak ingin Kiclik mendengar, tak ingin ia menghancurkan angan-angan cucu tercintanya bahwa berita itu tentang ibunya.


created by: @ninitatabon

Jumat, 19 Desember 2014

Bian dan Inginnya

“Umi.. Umi..” seorang gadis kecil berusia 8 tahun itu mengguncang tubuh wanita muda cantik yang terbujur kaku di hadapannya dengan suara gemetar. Akibat sebuah mobil yang dikemudikan serang laki-laki muda yang mengemudi dengan seenaknya dan tidak bertanggung jawab umi dan 5 orang pejalan kaki lainnya menjadi korban tabrak lari disebuah jalan raya di daerah Bandung. Bian dan uminya sedang berjalan menuju sekolah yang tidak jauh dari tempat kejadian saat itu.

***


“kaka.. sayang , bangun ka. Udah siang..” seorang ibu membangunkan anaknya dengan lembut, “Mmmmmh.. masih ngantuk umi” jawab anaknya dengan malas. “tuuuh kan , umi bilang apa.. jangan tidur lagi sesudah subuh, ayo kaka bangun nanti telat” seru uminya lembut. Dengan masih menutup matanya anak perempuan lucunya ini memaksakan diri untuk bangkit dari tidurnya, wajahnya manis sekali, pipinya bulat merah bagai tomat yang baru saja dipetik, mata mungilya memaksa membuka perlahan. Dengan kesal Bian ngedumel “Bian masih mau tidur umiiiii..” kemudian uminya merintih sakit memegang perutnya, Bian pun reflex membuka matanya lebar-lebar dan bertanya “Umi kenapa..?”, dengan tersenyum umi menjawab “Ade bayi ikut ngebangunin kaka nih, nendang-nendang perut umi. Kaka bangun yu.. mandi”. Bian pun manyun dan dengan cara bicaranya yang menggemaskan  Bian pun marah pada uminya, masih sama dengan kemarahannya semalam, Bian merasa iri pada ade bayi yang berumur 7 bulan dirahim uminya itu, Bian merasa uminya tidak menyayangi Bian lagi dan lebih sayang pada ade bayi yang masih didalam perut uminya. Saat Bian menginginkan suatu barang pada uminya yang dirasa umi tidak terlalu penting untuk pelajaran sekolahnya pasti umi menjawab “kaka, nanti saja belinya.. uangnya kan buat biaya lahirnya ade” terus dan terus kalimat itu diucapkan uminya setiap Bian menginginkan sesuatu yang uminya tidak dapat mengusahakan saat itu untuk bisa dikabulkan, dan puncaknya adalah tadi malam ketika Bian mengutarakan keinginannya yang dipendam sejak lama, dia ingin memiliki sepedah seperti teman-teman lainnya dan umi tidak sanggup membelikannya karena umi harus mengumpulkan uang untuk biaya persalinan nanti, umi berbuat seperti ini karena masalah keuangan dikeluarga sedang tidak stabil dan bahkan terus mengalami penurunan, hal itu disebabkan karena kantor dimana ayah bekerja sedang mengalami masalah keuangan yang membuat gaji ayah dan beberapa karyawan lainnya dikurangi sepuluh persen dari gaji biasanya selama 6 bulan belakangan ini yang jika di hitung-hitung gaji ayah tidak terlalu cukup untuk biaya persalinan dan biaya hidup setipa hari anak dan istrinya sehingga umi harus memutar otak untuk menggunakan uang dengan baik. Selalu dan selalu umi memberi pengertian kepada Bian dengan bahasa yang sesederhana mungkin, biasanya Bian nurut dan tidak membantah sama sekali jika umi tidak bisa mengusahakan sesuatu yang Bian inginkan, tapi entah kenapa untuk keinginan memiliki sepedahnya ini membuat Bian berbeda dari biasanya sampai-sampai merasa iri pada adik dalam kandungan uminya.

“Kaka kalo manyun terus nanti bibirnya ga bisa balik lagi loh kaya bebek” ledek uminya yang merasa lucu melihat buah hatinya itu ngambek. Bian pun masih manyun dan dengan kesal menuju kamar mandi.

Dengan menahan rasa sakit yang amat sangat pada perutnya, Umi mempersiapkan sarapan untuk Bian didapur. Kehamilannya yang kedua ini  menurut dokter terjadi kelainan pada rahimnya yang membuat umi harus menahan sakitnya setiap hari, kelainan pada rahim umi ini diketahui saat usia kehamilan umi menginjak umur 4 bulan, umi menahan sakitnya setiap hari, menahan sakit pada perutnya untuk mempertahankan buah hati keduanya itu dan menahan sakitnya hidup ketika menyadari bahwa keuangan keluarga mereka sangat jauh dari kata cukup. Penyakit itu membuat keuangan keluarga terkuras lumayan banyak karena untuk biaya check up umi ke dokter setiap bulan agar adik Bian bisa tetap hidup dan membuat ayah bekerja lebih kerasa lagi di Jakarta, ayah rela mengambil lembur setiap hari walaupun tidak ada jadwal lembur  tapi ayah selalu meminta lembur agar mendapatkan gaji tambahan, ayah rela pulang pagi hanya untuk mempertahankan anak keduanya, adik Bian. Umi dan ayah merahasiakan ini semua dari Bian karena mereka merasa bahwa Bian masih terlalu kecil untuk mengerti. Dan sebenarnya setiap Bian menginginkan mainan apapun umi selalu berusaha untuk mewujudkannya dengan cara membuat mainan dengan tangannya sendiri agar Bian dapat merasakan kebahagiaan yang anak-anak seumurnya rasakan, meski sering sekali Bian menanyakan “umi, ko bonekanya tidak sama dengan teman-teman yang lain?” atau “tangan umi kenapa, ko di plester?”. Yaa, umi selalu membuat mainan untuk Bian dengan diam-diam, biasanya pada pagi hari setelah shalat tahajud umi rela meluangkan waktunya hanya sekedar untuk membuat mainan Bian hingga tangan umi tertusuk jarum saat membuat boneka pun tak apa asal buah hatinya dapat merasakan apa yang teman-temannya rasakan, memiliki mainan baru. Namun untuk keinginan memiliki sepedah kali ini umi bingung harus bagaimana, tapi tanpa Bian tau umi selalu menyisihkan uang untuk keperluan Bian, memutar otak untuk kebahagiaan Bian dan termasuk untuk membelikan sepedah untuk Bian.

Umi pun terduduk lemas dibangku meja makan sambil mengatur nafasnya. “Tuh kan umi elus-elus dede bayi terus..” Bian keluar dari kamar melihat uminya yang sedang duduk sambil mengelus perutnya , dan Bian pun masih melanjutkan ngambeknya. Umi pun tersenyum sambil memeluk Bian lembut dan merapikan jilbab Bian, anak itu sangat cantik. Sambil mengelus-elus perutnya umi pun berbicara dengan lembut “kaka juga dulu begini didalam sini. Umi elus-elus, umi sayang, umi bawa kemana-mana. Masak, nyuci, mandi, nyiram bunga, nyapu, tidur, sampai ke pasarpun umi bawa. Sama ka, tidak dibedakan” umi tersenyum pada Bian, “nama aku Bian, bukan kaka” sahut Bian cepat. Umi hanya bisa tersenyum melihat anak perempuan cantiknya ini. “iya iya Ka Bian” umi mencium kening Bian, “dulu waktu kaka masih diperut umi kaka juga suka nendang-nendang begini seperti ade, makanya umi elus-elus” kata umi lembut. “apa iyah?” marah Bian mulai mencair dan wajahnya sudah kembali normal tanpa raut marah, “iya, masa umi bohong” kata umi, “tapikan aku ga minta jajan kaya ade bayi sekarang, dikit-dikit kalo aku minta jajan umi bilang uangnya buat ade bayi, aku minta ini minta itu uangnya buat ade bayi” Bian kembali manyun. “huufffth..” Umi lumayan bingung apa yang harus dia jawab untuk pernyataan Bian karena umi berfikir Bian tidak akan mengerti walau dijelaskan nantinya dan rasanya kurang pantas jika anak sekecil Bian harus mengetahui masalah yang sedang di hadapi orang tuanya.  Dengan tersenyum umi pun langsung mengajak Bian sarapan dan setelah selesai makan mereka bersiap untuk berangkat menuju sekolah Bian.

 Entah kenapa pagi ini perasaan umi tidak sama seperti biasanya, resah, perasaan umi sangat tidak enak, jantung umi berdetak kencang, umi menenangkan diri dengan terus berdzikir. Merekapun bergegas berangkat ke sekolah Bian yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Di jalan umi merasakan sedikit mual, perasaan umi sangat sangat tidak enak, umi menggandeng tangan Bian tapi Bian melepasanya, umi mengelus kepala Bian tapi Bian tetap saja manyun, setelah berjalan agak jauh dari rumah Bian mengeluh haus dan umi lupa tidak membawa botol minum yang biasanya  Bian bawa ke sekolah, kemudian umi meminta Bian untuk menunggu sebentar di pinggir jalan karena umi akan membelikan Bian minum di warung sebrang jalan sana “Kaka tunggu disini sebentar, jangan kemana-mana yah..” Bian pun mengangguk. Perasaan umi semakin tidak enak dan tidak karuan saat menyebrang jalan, setelah sampai diwarung umi duduk diwarung sambil menunggu ibu penjaga warung mengambil sebotol air mineral di dalam warungnya. Umi memperhatikan Bian dari kejauhan, entah kenapa umi merasa sangat sedih, umi merasa tidak ingin sekejap saja lengah melihat Bian, anak itu lucu, degan jilbab di wajahnya, pipinya tembam, kulitnya putih, matanya bening membuat siapa saja yang melihatnya tertarik pada anak itu, cantik, lucu.. Bian. Umi tidak ingin melepas pandangannya sedikitpun dari Bian, umi merasakan seuatu yang aneh di benaknya, umi merasa tidak ingin jauh dari Bian, umi merasa dirinya akan terpisah jauh dari Bian, umi tidak tau kenapa umi berfikiran seperti itu.

Ternyata benar saja kehawatiran umi terbukti.

Pagi itu cukup tenang seperti biasanya, namun ternyata ketenangan itu berubah karena teriakan panik sebagian orang di sekitar jalan itu, umi pun bingung dan kaget mengapa orang-orang  disekitar jalan itu berteriak panik tidak seperti biasanya, dan ternyata dari kejauhan umi melihat mobil sedan hijau melaju kencang dengan ugal-ugalan menabrak satu orang pedagang somay keliling dan terpental jauh, kemudian diarah yang lain umi melihat ada dua orang pejalan kaki yang tertabrak juga oleh mobil sedan hijau ini, satu orang nenek pun tewas seketika dilindas oleh mobil yang dikemudikan seorang anak muda tidak tau aturan itu dan umi merasakan bahwa mobil itu bergerak menuju Bian disebrang jalan sana, umi cemas, khawatir hingga umi tanpa berfikir panjang dan tidak menghiraukan orang-orang yang mencegah umi ketika umi ingin berlari menuju Bian, umi tidak merasakan sakit diperutnya, umi tidak berfikir sebesar apa resiko yang akan dia dapatkan pada bayi diperutnya, umi sama sekali tidak menghiraukan teriakan orang-orang disekitar tempat kejadian “buuuu, awas buu!”,  Bian sangat bingung dan ketakutan , tidak tau harus berlari kearah mana, Bian berteriak sekencang yang dia bisa, menangis dan memanggil uminya yang sedang berlari ke arahnya  dan akhirnya “BRUAAAAAAAAAAAAAK..”  pemuda ugal-ugalan itu menabrak 2 korban lagi dan salah satunya adalah.. umi. Mobil sedan hijau itu melaju kencang setelah menabrak 6 orang tak bersalah. Kabur, tak bertanggung jawab.

Masyarakat disekitar tempat kejadian langsung meriung dan menolong korban-korban yang bergeletakan, Bian pun berlari menuju uminya yang terbaring di tengah jalan, Bian memeluk umi dan menangis sejadinya, membuat semua orang yang di dekatnya merasakan haru yang amat sangat, kemudian datang seorang lelaki yang memegang pergelangan tangan umi dan kemudian mengatakan “nadi ibu ini sudah tidak berdenyut...” orang itu pun memeluk Bian yang menangis. Bian melepas pelukan orang itu, Bian memeluk umi, jilbab umi sudah tidak berwarna putih lagi, merah.. menutupi hampir bagian atas jilbabnya.. umi menutup matanya dan tak akan pernah membukanya lagi, Bian menangis dan terus menangis mencium uminya, darah terus keluar dari kepalanya, uminya tidak tertolong, dan Bianpun mengelus perut uminya dan berkata “Ade bayi, ade bayi.. disini ada kaka de.. disini ada kaka, suruh umi bangun de, ade bayi suruh umi bangun. Umi.. umi..” sambil terus menangis dan mengelus perut uminya Bianpun berteriak pada orang sekitar “tolong bangunkan umi Bian, umiiiii… umiiiii… bangun umiiiiii” Bian pun mengguncang tubuh uminya dan kejadian itu membuat orang-orang yang ada di tempat kejadian benar-benar terharu, mereka berusaha menenangkan Bian namun Bian tidak ingin jauh dari jasad uminya itu, banyak orang yang berusaha  menggendong Bian tapi Bian tetap ingin di tempat itu, di samping uminya.

***

“hah.. hah.. hah” Bian bangun dari tidur siangnya dengan nafas yang terengah, Bian melihat keadaan di sekitar kamarnya. Melihat foto dia bersama umi dan ayahnya, Bian menangis. Keluar dari kamarnya, menuju kamar uminya dan menyadari bahwa orang yang di maksud tidak ada di kamarnya, Bian menuju kamar mandi, dan tetap tidak ada. Bian menangis sambil berteriak “Umiiiii.. Bian sayang umi, umi maafin Bian, Bian ga akan nakal lagi.. bian ga mau bikin umi repot lagi. Umiiiiii.. bian sayang umi” dengan terus menangis dan terisak Bian terus memanggil uminya, “Umiiii.. Bian udah ga mau beli sepedah, Bian ga mau marah lagi sama ade bayi, Bian sayang umi. Umiiiiiii maafin Bian. Bian ga mau sepedah lagi, Bian mau umiiiiii…” Bian menangis sejadinya karena menyesal dengan apa yang dia lakukan pada umi, Bian berteriak terus menerus memanggil uminya hingga Bian lelah dan terduduk di depan pintu kamarnya sambil menangis mengingat uminya. “Bian sayang umi..” bisiknya.

***

Dari arah dapur Bian mendengar teriakan seorang wanita yang suaranya sangat Bian kenal  “Kaka.. umi di dapur, kaka kenapa?”. Bian tersadar, itu.. Umi.


---

Selesai.

NB:
Disetiap keadaan pasti ada sebuah alasan, orang tua selalu mengusahakan apa yang anaknya inginkan, bahkan.. tanpa kita sadari, dan tanpa kita pinta sedikitpun. Karena mencintai itu.. memberi tanpa alasan dan tanpa perhitungan.. sama sekali. Nikmati dan gunakanlah waktu yang kita miliki bersama orang tua saat ini, karena rasa dari “kehilangan” adalah sangat menyakitkan, sekalipun itu.. bermimpi.

Terimakasih.

**Maaf kalo ada yang kurang pas, ini tulisan pertama saya saat baru belajar nulis cerpen ^^v

Minggu, 23 Maret 2014

Definisi Setiaku

   "Cinta adalah pilihan antara pergi atau ditinggal pergi", ku kenang baik-baik kalimat dari sebuah novel karya Dee yang baru saja selesai kubaca ini. ponsel ku berdering tanda pesan masuk, "Aku ngga rela kalau lensa kacamatamu harus bertambah tebal hingga menutupi mata indahmu", dari Mas Yovi. calon suamiku. aku memahami maksud pesannya, dia memang selalu begitu, entah punya ilmu apa hingga dia selalu tau apa yang sedang kulakukan. memperhatikanku diam-diam. selalu manis untukku. ini bukan pertama kalinya, dia sering memberiku kejutan tak terduga yang selalu berkaitan dengan apa yang sedang kuinginkan. Mas Yovi si cenayang hati yang mebuatku jatuh hati. ku balas pesannya "iya, ini udah selesai, ngga lagi-lagi deh baca buku sampe malem pak boss", ku taruh emotic smile diakhir pesan.

Ponsel ku berbunyi tanda pesan masuk lagi, namun bukan balasan dari mas Yovi. "Gimana? seru kan novelnya?", dari Tito, seorang laki-laki yang akhir-akhir ini dekat denganku, yang berhasil membuatku merasa menjadi wanita paling bodoh sedunia karena tak bisa juga menegaskan hati. "iya, seru. thanks yah udah recomend novel ini", balasku cepat."iya, sama-sama. novel emang lebih seru juga dibaca malam-malam gini Ta". begitulah.. Tito adalah seorang manusia yang bisa dibilang duplikatku dalam bentuk laki-laki, kita sangat memilki kecocokan dalam sifat dan watak, kami selalu nyambung dalam urusan apapun, selera kami berdua sama, dan tak bisa kupungkiri bahwa kamipun miliki rasa yang sama, namun dia tau bahwa aku sudah dijodohkan dengan seseorang yang lebih dulu ku kenal dibanding Tito, kerabat dekat ibu, teman kecilku, yang sudah kuanggap pelindung untukku, yang menerima kekuranganku, yang selalu membuatku merasa sempurna, yang mampu membimbingku, dia si cenayang hatiku, mas Yovi.

Yang aku tahu cinta selalu cuma satu, jika lebih dari itu hanya semu. palsu saja, hanya kesenangan biasa. mas Yovi selalu bisa mengerem kebodohanku, menenangkan hati ketika aku merasa kebingungan, dewasa. Tito, dia mebuat duniaku terasa berwarna, karena kesamaan yang kami punya membawa kita pada hal-hal yang gila sebagaimana adanya kita. bersama mas Yovi aku merasa dilindungi, bersama Tito aku merasa segala hayalku selalu bisa berwujud nyata. itulah mengapa aku tak bisa juga memilih, padahal aku sudah akan diperistri.

hingga akhirnya tiba pada satu moment dimana aku harus menegaskan hati, memutuskan sebuah pilihan, mendefinisi sebuah kesetiaan.

"Jadi gimana Ta?", Tito menatapku yang sedari tadi diam, padahal sebelumnya aku lah yang mengajaknya kemari, kubilang akan memutuskan pilihanku.
aku tidak menyangka akan sesulit ini mengatakannya. "kamu udah kasih banyak warna buatku", jawabku.
dia tersenyum, manis sekali. "Tapi aku bukan orang yang bisa nyatuin banyak warna". Tito menghapus senyumnya seketika seakan memahami maksud ucapanku. "Aku ngga bisa". kataku sambil menunduk, tak mampu kutatap mata indah penuh mimpi itu. "Aku paham", katanya beberpa saat kami ada dalam hening paling memuakan, kemudian nafasnya menghela panjang seakan mendapat kelegaan. "Terimakasih sudah menjadi partner kebodohanku Ta", ucap Tito dengan tersenyum kepadaku, "Kita emang terlalu mirip, terlalu sama, monoton, aku ngga akan bisa jadi rem buat kamu, saat kamu lari aku akan lari bersamamu, saat kamu kelelahan maka aku juga akan sama kelelahannya denganmu, karena kita terus lakukan hal yang sama. dia memang lebih kamu butuh, karena dia selalu punya cara bikin kamu balik lagi kedunia nyata saat kamu kecapean didunia mimpi kita. selamanya Gita Aulia Putri adalah mimpi paling indah dihidupku. tapi,  mimpi yang selamanya cuma jadi mimpi". Tito memecah keheningan dengan kalimat-kalimatnya yang membuat pipiku basah seketika. Sepedih ini kah rasanya memutuskan untuk setia?

Kantin kampus tidak pernah terasa sesepi ini sebelumnya, bukan karena tak ada pengunjung, tapi karena seakan-akan kalimat dan langkah terakhir Tito didekatku mengheningkan segala hingar bingar disekitarku. Tak apa, karena cinta selalu hanya satu, dan memang harus memilih. benar adanya bahwa cinta adalah pilihan antara pergi atau ditinggal pergi.

"Seberapapun sempurnanya kamu, aku tidak ingin berpaling dari hati yang menyempurnakanku, hati yang mampu melindungiku didunia nyata, bukan larut dalam alam hayal saja", aku menatap punggung Tito yang kini mulai jauh. "Semoga ada hal manis setelah ini sebagai balasan atas kesetiaanku".

created by: @ninitatabon
Di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com
tema; Fatin - Aku memilih setia

Walau Bukan Aku

Aku sadar bahwa yang datang pasti akan pergi. Aku selalu paham itu, tapi yang tidak aku mengerti kenapa waktu tidak berpihak pada kebahagiaanku. waktu memaksaku mengakhiri apa yang tidak ingin ku akhiri.

"Kamu apa kabar?", sebuah sms masuk ke handphoneku dari nomor ponsel yang walau sudah kuhapus dari list contact handphoneku tapi masih saja ku ingat ke 12 angka itu. aku membatin setelah membacanya. Apa kabar? itu pertanyaan retoris untukku. setelah 2 tahun namun hingga saat ini aku masih tidak baik-baik saja.

"Ada apa?", balasku ketus. mengingat kembali moment 2 tahun lalu, mengingat dialog terakhir kita kala itu.
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak bisa menjelaskannya, aku sama sekali tidak mengerti, rasa ini datang begitu saja. Maafkan aku, aku mencintai gadis selain kamu". kalimat paling menyakitkan dihidupku, yang sakitnya masih kubingkai rapih dari terakhir kali aku menatap lirih punggungmu hingga kini aku masih belum mampu lupakanmu.

"Aku harap kamu baik-baik saja. aku berkunjung kerumahmu tapi ternyata kamu sudah pindah. aku dapat nomor handphone barumu dari teman kerjamu. Maafkan aku, bukan aku bermaksud mengganggumu". balasan yang cukup menjelaskan beberapa pertanyaan dibenakku. Tunggu, apa katanya? bukan bermaksud mengganggu? tanpa kamu datang lagipun kamu masih terus mengganggu hatiku.

aku putuskan untuk tidak membalasnya. Tapi 2 jam kemudian handphoneku berdering tanda sebuah pesan masuk. masih dari nomor yang sama. Tapi dengan isi yang lebih menyakitkan.

"Aku tak bermaksud apapun. Aku hanya ingin mengundangmu untuk datang ke pernikahanku. Aku sudah titipkan undangannya kepada teman kantormu.". Lebih dari menyakitkan.

"Ku usahakan". pesan terkirim. basah pipiku begitu saja.

Tuhan, setelah 2 tahun kenapa ini masih tetap menyakitkan? apa karena wanita adalah makhluk paling lemah dalam urusan perasaan? Ajarkan aku untuk ikhlaskan semuanya Tuhan. Sebagaimanapun menyakitkannya ini tapi aku bahagia bahwa dia sudah temukan separuh hidupnya. Bahagiakan dia Tuhan, walau aku bukan alasan atas kebahagiaannya.


Tema: Sammy Simorangkir - Kau harus bahagia
Created by: @ninitatabon
Di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com

Balkon Sekolah

"Andriiiiiiii!!", teriak seorang perempuan pada salah satu laki-laki yang sedang asik bermain basket dengan kawan-kawannya. teriakan itu mengejutkan aku yang sedari tadi memandangi si pemilik nama, sontak aku langsung menoleh ke arah pusat suara. "Dina!!", teriak ku pada perempuan yang ternyata ada disampingku tapi aku tidak menyadarinya. dia sahabatku. aku langsung menarik tangan perempuan bertubuh bongsor ini beringsut bersembunyi agar yang namanya baru saja dipanggil tak melihat ke arah kami berdua. hampir copot jantungku.

"Gila kamu din!", Dina terkekeh melihat ku kalang kabut,
"Hahahaha.. lagian mau sampai kapan sih Ta?", Dina menggodaku.

 wajah ku merah malu, antara malu dan takut tepatnya. aku tak bisa menjawab pertanyaan Dina. Dina tersenyum, "Aku rasa balkon ini juga bosen lihat tingkah kamu Ta, curi-curi pandang ke Andri yang lagi maen basket dibawah sana, padahal Andri ngga lihat kamu sama sekali kan?"

Aku menunduk sebentar, "Iya, kamu bener. tapi ini cara ku mencintainya, tanpa harus memanggil atau mengalihkan perhatiannya padaku, cukup ku kagumi nya dari balkon ini", aku tersenyum. "Tapi dari jaman MOS sampe kita udah mau lulus gini Ta? kamu ngga capek?".

"Ngga ada kata lelah untuk cinta, Din", aku mencolek hidung sahabat karibku dari jaman SMP ini.
Dina terlihat kesal.

"Tapi, makasih yah, kamu memberi ku kesempatan melihat mata indahnya tadi". Aku senyum-senyum sendiri.
"Ampun deh!! udah ayo ke kantin nanti jam istirahat keburu habis cuma buat Andri mu itu!". Dina memanyunkan bibirnya. Aku tertawa.

tema: cheribelle - diam diam suka.
created by: @ninitatabon
di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com

Ikhlas Tak Mengingatmu lagi

Aku masih duduk mematung dikursi taman ini, sudah dua jam lamanya dengan terus menggenggam kotak berwarna coklat muda lengkap dengan pita cream sebagai hiasannya. hadiah terakir darimu yang berisikan gelang yang kini melingkar di pergelangan tanganku.

"Apa kabar kamu?". aku berbisik, menguap banyak rasa dalam hati.

entah ini sudah detik ke berapa dihidupku yang ku habiskan hanya untuk duduk disini ditempat pertama kita bertemu, hanya untuk mengenangmu.

Aku memejamkan mataku, menikmati sendiriku disini.
basah pipi ku begitu saja. ada sakit menghujam dalam dada.

"Sampai kapan?". aku mulai terisak.

"Tuhan, bukan maksudku tak menerima takdir-Mu. tapi, harus sesakit ini kah rasanya mengingat sesuatu? atau karena aku terus mengenangnya setiap waktu?".

Aku menghela nafas mencoba menguatkan diriku sendiri. "Andai aku tahu cara cepat merelakanmu." lirih ku dalam hati.


"Aku masih ditempat ini, tempat pertama kita bertemu. selamat hari jadi pernikahan, sayang. aku selalu mendoakanmu. aku mencintaimu. semoga perjuanganku untuk mengikhlaskanmu pergi dapat memudahkan jalanmu menuju surga-Nya. dan aku terus coba ikhlas untuk tidak mengingatmu lagi, bukan melupakan hanya mencoba merelakan". Aku menengadah, menatap langit yang mulai redup menuju senja.

tema: Geisha - Lumpuhkan Ingatanku.
created by: @ninitatabon
di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com

Ikhlas?


secangkir moccacino hangat sedari tadi ku aduk dan belum ku minum. malas rasanya mengangkat gagang cangkir menuju mulut untuk membiarkan isinya mengalir di teggoorkanku, padahal ini adalah minuman favoritku.

"mau sampai kapan begini terus?" suara Ambar sahabatku menyadarkanku dari lamunan panjangku. tanpa sadar minuman hangat yang sedari tadi ku aduk hampir dingin. aku hanya membalas pertanyaan Ambar dengan tatapan datar.

"gua benci yah sahabat gua yang begini. gua kangen lu yang dulu! please ndi, Andri kan udah....". aku menoleh dan menatap tajam tanpa suara pada Ambar saat dia menyebut nama seseorang yang 2 tahun ini menetap pada sudut fikir dan memang sedari tadi ku fikirkan, Ambar tak melanjutkan omelannya. dia memeluk ku erat. "gua kangen lu ndi, kangen banget sama lu". sambil terisak dia memeluk ku.

"udah 2 tahun lu begini. ikhlas ndi, ikhlas." tangannya mengusap lenganku layaknya orang menenangkan, padahal dia yang butuh ditenangkan. tunggu dulu, apa katanya? ikhlas? sering sekali ku dengar kata itu keluar dari mulut mereka yang "mungkin" risih pada yang ku lakukan ini, duduk di gazibu rumah setiap sore bersama moccacino hangat buatan ibu yang sampai dingin pun tak ku sentuh.

aku tersenyum datar pada Ambar. mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. "Ini cara ku mengikhlaskannya". Ambar menghapus air matanya. "Indi! itu-itu terus jawaban lu! ini udah takdir Ndi, ngga ada yang pernah tau, ngga ada yang bisa hindarin, ini udah maunya yang di Atas, kapanpun Dia mau, dan ngga ada yang tau kalau kecelakaan itu bakal kejadian satu hari sebelum kalian menikah!". aku mengatupkan bibir ku rapat-rapat, tak ada yang ingin ku ucap. biar air mata yang menjawabnya.

aku bukan tak percaya pada takdir-Nya, bukan pula membangkang kehendak-Nya. aku hanya butuh waktu, waktu yang aku sendiripun tak tahu hingga kapan ku mampu membiarkan semuanya berlalu menjadi masa lalu. semua, tentang aku dan dia yang sama-sama cinta pertama, tentang aku dan dia yang saat masa SMA sama-sama memendam rasa, tentang aku dan dia yang dipisahkan oleh jarak saat berada dibangku kuliah, tentang aku dan dia yang mengenal manisnya cinta, tentang aku dan dia yang memutuskan menikah, dan tentang dia yang pergi untuk selamanya saat satu hari sebelum kita menikah, dan tentang aku yang tak mudah lupakannya. karena ikhlas adalah bukan seberapa cepat kita melupakan, tapi seberapa mampu kita melepas, membiarkan takdir membawanya.

"aku cuma butuh waktu, Mbar. Maaf, berkali-kali aku harus bilang bahwa ini caraku mengikhlaskan. dengan menikmati setiap detik kepergiannya disini". aku tersenyum tegar, dan sekali lagi menegaskan bahwa aku baik-baik saja.

 Aku mencintaimu, tapi aku tak punya hak tentukan takdir.

#FirstFF @ninitatabon